Our social:

Latest Post

Sabtu, 19 Maret 2016

Kalimah thayyibah “Subhanallah” sering tertukar dengan ungkapan “Masya Allah”

Kalimah thayyibah “Subhanallah” sering tertukar dengan ungkapan “Masya Allah”

Oleh: K. H. Muhammad Arifin Ilham
Ungkapan dzikir atau kalimah thayyibah “Subhanallah” sering tertukar dengan ungkapan “Masya Allah”. Ucapkan “Masya Allah” kalau kita merasa kagum. Ucapkan “Subhanallah” jika melihat keburukan.

Selama ini kaum Muslim sering “salah kaprah” dalam mengucapkan Subhanallah (Mahasuci Allah), tertukar dengan ungkapan Masya Allah (Itu terjadi atas kehendak Allah). Kalau kita takjub, kagum, atau mendengar hal baik dan melihat hal indah, biasanya kita mengatakan Subhanallah. Padahal, seharusnya kita mengucapkan Masya Allah yang bermakna “Hal itu terjadi atas kehendak Allah”.

Ungkapan Subhanallah tepatnya digunakan untuk mengungkapkan “ketidaksetujuan atas sesuatu”. Misalnya, begitu mendengar ada keburukan, kejahatan, atau kemaksiatan, kita katakan Subhanallah (Mahasuci Allah dari keburukan demikian).

Ucapan Masya Allah

Masya Allah artinya “Allah telah berkehendak akan hal itu”. Ungkapan kekaguman kepada Allah dan ciptaan-Nya yang indah lagi baik. Menyatakan “semua itu terjadi atas kehendak Allah”.

Masya Allah diucapkan bila seseorang melihat hal yang baik dan indah. Ekspresi penghargaan sekaligus pengingat bahwa semua itu bisa terjadi hanya karena kehendak-Nya.

“Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu, ‘Maasya Allah laa quwwata illa billah‘ (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan?” (QS. Al-Kahfi: 39).

Ucapan Subhanallah

Saat mendengar atau melihat hal buruk/jelek, ucapkan Subhanallah sebagai penegasan: “Allah Mahasuci dari keburukan tersebut”.

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Suatu hari aku berjunub dan aku melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam berjalan bersama para sahabat, lalu aku menjauhi mereka dan pulang untuk mandi junub. Setelah itu aku datang menemui Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda: ‘Wahai Abu Hurairah, mengapakah engkau malah pergi ketika kami muncul?’ Aku menjawab: ‘Wahai Rasulullah, aku kotor (dalam keadaan junub) dan aku tidak nyaman untuk bertemu kalian dalam keadaan junub. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Subhanallah, sesungguhnya mukmin tidak najis.” (HR. Tirmizi)

“Sesungguhnya mukmin tidak najis” maksudnya, keadaan junub jangan menjadi halangan untuk bertemu sesama Muslim. Dalam Al-Quran, ungkapan Subhanallah digunakan dalam menyucikan Allah dari hal yang tak pantas (hal buruk), misalnya: “Mahasuci Allah dari mempunyai anak, dari apa yang mereka sifatkan, mereka persekutukan”, juga digunakan untuk mengungkapkan keberlepasan diri dari hal menjijikkan semacam syirik.” (QS. 40-41).

Jadi, kesimpulannya, ungkapan Subhanallah dianjurkan setiap kali seseorang melihat sesuatu yang tidak baik, bukan yang baik-baik atau keindahan. Dengan ucapan itu, kita menegaskan bahwa Allah Subahanahu wa Ta’ala Maha Suci dari semua keburukan tersebut.

Masya Allah diucapkan bila seseorang melihat yang indah, indah karena keindahan atas kuasa dan kehendak Allah Ta’ala. Lalu, apakah kita berdosa karena mengucapkan Subhanallah, padahal seharusnya Masya Allah dan sebaliknya? Insyaa Allah tidak. Allah Maha Mengerti maksud perkataan hamba-Nya. Hanya saja, setelah tahu, mari kita ungkapkan dengan tepat antara Subhanallah dan Masya Allah. Wallahu a’lam bish-shawabi.

sumber : arrahmah.com

Selasa, 15 Maret 2016

6 Tanda Mengetahui Jenis Kelamin Bayi

6 Tanda Mengetahui Jenis Kelamin Bayi

Masing-masing pasangan yang baru menikah menginginkan anak dengan jenis kelamin tertentu, walau sebenarnya memiliki anak laki atau perempuan harus patut disyukuri. Menunggu kelahiran dan langsung mengetahui jenis kelamin si bayi adalah hal yang dilakukan setiap pasangan.
Mungkin ada sejumlah metode yang bisa membuat anda mengetahui jenis kelamin bayi salah satunya seperti USG. Sebenarnya tak perlu menanti hasil USG lagi untuk tahu jenis kelamin bayi di kandungan. Anda hanya cukup memperhatikan tanda-tanda berikut untuk mengetahuinya, seperti dikutip dari tren.co:

1. Perubahan Bentuk Tubuh
Ladies, tahukah anda perubahan tubuh ketika hamil dapat menjadikan petunjuk terhadap jenis kelamin bayi yang ada dikandungan? Bila tubuh anda bersih dan cerah, mungkin bayi yang dikandungan yakni laki-laki tapi bila sebaliknya mungkin bayi yang dikandung permpuan.

2. Bentuk Payudara
Ketika hamil umumnya bentuk payudara membesar. Namun bila payudara anda besarnya tiga kali dari ukuran normal, kemungkinan bayi yang dikandung anda adalah perempuan.

3. Dari Makanan yang Kamu Konsumsi
Seperti menurut pepatah, perempuan cenderung menyukai sesuatu yang bersifat manis termasuk dalam segi makanan. Ladies, bila ketika hamil anda suka makanan manis pertanda bayi yang anda kandung adalah perempuan. Justru sebaliknya bila anda cenderung menyukai makanan asin bayi dikandungan anda adalah laki-laki.

4. Bentuk Perut
Jenis kelamin bayi yang anda kandung bisa dilihat melalui bentuk perut ketika mengandung. Bila perut anda terlihat sedikit rendah, maka bayi yang anda kandung adalah laki-laki dan sebaliknya.

5. Denyut Jantung
Tiap kali anda ke dokter ingatlah selalu untuk melihat ketika dokter menjalankan Doppler. Bila denyut jantung bayi kurang dari 140 denyut per menit berarti pertanda bayi dikandungan anda adalah laki-laki.

6. Morning Sick
Studi mengungkapkan bila anda menghadapi morning sick tiap pagi, sesuatu tersebut pertanda bahwa bayi dikandungan anda adalah bayi perempuan. Sebaliknya, bila anda tak menghadapi morning sick mungkin bayi anda laki-laki.

Ladies apapun jenis kelamin bayi anda, mempunyai seorang bayi merupakan momen menyenangkan. Nikmati saat-saat kehamilan anda dengan bahagia.

Sumber: http://wartakesehatan.com

Jumat, 11 Maret 2016

Berlebihan memakai Earphone, ini Risikonya!

Berlebihan memakai Earphone, ini Risikonya!

Pemakain earphone kini sudah sering kita temukan, mulai dari anak kecil hingga orang dewasa pasti pernah memakai alat yang dihubungkan dengan indra pendengar kita. Sebenarnya penggunaan earphone tidak bermasalah, yang masalahnya ketika volume yang disetel kencang.
Kebiasaan ini tentu tak baik bagi pendengaran karena bila diteruskan akan menyebabkan telinga menjadi tuli secara perlahan.
Anda perlu mengetahui bahaya yang mengancam akibat memakai earphone berlebihan, dan cara memakai earphone yang dianjurkan.

1. Hindari volume keras

Telinga manusia memiliki batas pendengaran tertentu. Tingkat suara yang melebihi 85 desibel  dapat menyebabkan kerusakan pada sel-sel rambut di telinga dalam yang berujung pada tuli permanen.

2. Ambil jeda selama 15 menit

Jangan mendengarkan musik dengan volume ekstrem selama lebih dari 30 menit. Ambil jeda selama 15 menit. Untuk orang yang bekerja sebagai editor suara, DJ, atau lokasi konstruksi, dibutuhkan perhatian yang lebih teliti dan jeda yang lebih banyak.

3. Jangan menggunakan ukuran kecil

Earphone berukuran kecil langsung menyalurkan suara ke saluran telinga, sehingga menghalamgi saluran udara. Hal ini dapat menyebabkan pertumbuhan bakteri berkelanjutan, infeksi telinga dan akumulasi kotoran telinga, yang berujung pada gangguan pendengaran.

4. Menyebabkan gangguan lain

Tak hanya menyebabkan tuli, pemakaian earphone dapat berpengaruh pada bagian telinga lain, seperti tinnitus. Ini adalah suatu kondisi di mana pasien merasa mendengar suara secara konstan seperti sensasi dering atau berdengung di telinga. Selain itu, sakit parah yang mengarah ke sakit kepala parah juga menjadi salah satu akibat dari mendengar musik keras.

5. Memberi efek samping pada otak dan jantung

Gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh earphone dapat menyebabkan kerusakan kolateral untuk otak dan hati. Tidak hanya itu, musik keras menguatkan tekanan pada otak menambah efek yang merugikan.

6. Menyebabkan infeksi telinga

Memakai earphone secara bergantian dengan orang lain dapat menyebabkan infeksi telinga karena Anda tidak pernah tahu apakah orang teraebut menderita segala jenis infeksi telinga atau tidak. Jadi, hindari memakai earphone bersama.

Sumber: http://wartakesehatan.com/

Senin, 07 Maret 2016

3 Warna Para Pencari Ilmu

3 Warna Para Pencari Ilmu

Mencari ilmu merupakan kewajiban setiap Muslim. Baik laki-laki maupun perempuan sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW: “Mencari ilmu wajib bagi setiap Muslim dan Muslimah.”
Kewajiban mencari ilmu ini bersifat real sejak pertama menginjakkan kaki di dunia hingga tutup usia. Sesuai sabda Raasulullah SAW: “Carilah ilmu sejak masih dalam ayunan ibu hingga ke liang lahat.”
Namun dalam mencari ilmu ini harus didorong oleh niat yang ikhlas dan tujuan yang benar. Sebab segala amal manusia itu bergantung pada niat dan tujuannya. Maka, meninjau aspek pendorong ini, orang yang mencari ilmu terbagi menjadi 3 bagian.

Pertama: orang yang mencari ilmu untuk dijadikan bekal ketika mati, mencari pengetahuan semata-mata karena Allah Swt dan hari akhir. Pencari ilmu semacam ini merupakan jiwa yang ikhlas dan tentu tergolong orang-orang yang beruntung.

Kedua: orang yang mencari ilmu dengan tujuan untuk dijadikan penopang untuk kehidupan dunia yang sementara sehingga dengan ilmu itu dia bisa mendapatkan kemuliaan, pangkat yang tinggi dan harta yang melimpah. Namun orang ini mengetahui akan hal itu dan menyadari dalam hatinya bahwa tujuannya dalam mencari ilmu tiada hanyalah tujuan yang hina.
Pencari semacam kedua ini sungguh mengkhawatirkan. Sebab jika ajalnya tiba dan dia belum sempat bertaubat dikhawatirkan hidupnya berakhir dengan "سؤالخاتمة". Namun jika ia dianugerahi pertolongan untuk segera bertaubat kepada Allah sebelum ajalnya tiba dan mengaplikasikan ilmunya untuk beribadah dan memperbaiki kekeliruan-kekeliruan yang telah berlalu, maka dia akan tergolong orang yang beruntung pula. Sebab orang yang bertaubat dari dosa itu layaknya orang yang bersih dari dosa.

Ketiga: orang yang mencari ilmu yang niatnya diatur dan dikuasai oleh syetan. Segala ilmu yang ia peroleh digunakan sebagai link untuk bersaing dalam menumpuk harta, bersenang-senang dalam kesombongan dengan pangkat dan merasa paling mulia dengan menjaring banyak pengikut. Dengan demikian yang terbesit dalam hatinya adalah dia merasa mendapat empat mulia di sisi Allah Swt dengan berbaju layaknya ulama. Dia selalu merasa bahwa dirinya selalu berbuat baik. Meskipun secara lahir batin dia selalu disibukkan dengan urusan dunia. Sungguh ini adalah dugaan terbujuk dan tertipu yang dapat menjadikannya orang yang binasa dan terlena. Oleh sebab itu, tak bisa diharapkan darinya jalan untuk bertaubat kepada Allah Swt.


Kesimpulan: dalam mencari ilmu harus didasari dengan niat yang ikhlas dan tujuan yang benar. Dari 3 warna para pencari ilmu di muka, hanya pertama yang harus kita teladani. Sudah semestinya ibadah dan pekerjaan kita dalam segala aspek kehidupan harus dibacking dengan niat yang benar. Sebab dengan itu kita bisa bahagia dunia terlebih di akhirat kelak. Semoga bermanfaat!